Selasa, 30 Desember 2014

Sajadah Milik Pierre (Bagian 5 - Terakhir)

Langkah kaki Pierre bersama Sebastian semakin cepat saja, bahkan setengah berlari. Degupan jantungnya pun makin kencang saja. Bukan terengah-engah karena setengah berlari itu yang membuat degupnya makin kuat, namun lebih karena ketakutan mereka. Takut bilamana mereka tertinggal menunaikan jamaan ashar, sedangkan tadi mereka telah lalai dengan adzan yang sudah jelas mereka dengar. Sibuk dengan urusan belanja seusai jamaah jumat tadi.


"Allah hanya memanggil kita 3 kali dalam hidup ini," ustad Abou Baker pernah mengingatkan hal yang penting tentang adzan itu. "Yang pertama adalah panggilan adzan, yang menyeru kita untuk bersegera sholat. Yang kedua adalah panggilan berhaji atau setidaknya berumroh bila mampu. Dan terakhir adalah panggilan saat kematian kita nantinya."

"Adzan itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, bahkan sangat kuat terdengar. Ketika kita sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak 'cepat marah' akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak sholat sama sekali karena malas. Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmat-Nya, masih memberikan kebahagiaan bagi umat-Nya, baik umat-Nya itu menjawab panggilan Adzan-Nya atau tidak. Allah hanya akan membalas umat-Nya ketika hari Kiamat nanti" tegas ustadz Abou Baker kembali.

Tak terasa air mata Pierre menitik dan mulai membasahi pipinya, saat kaki-kakinya mulai menapaki jalanan di bawah Menara Jam. Iqomah sudah mulai dikumandangkan, mereka tak bisa mengejar tempat di dalam lingkungan masjid Al Haram. Mau tidak mau, mereka harus bergabung dengan jamaah lain yang mulai menggelar sajadah mereka di trotoar atau selasar pertokoan di bawah Menara Jam itu. Tak memungkinkan menerobos jamaah yang sudah mulai berhenti berjalan itu. Dzalim malah lebih dekat dengan mereka jika tetap menerobosnya.

"Kamu masih punya wudhu?" tanya Sebastian kepadanya.

"Entahlah, ... kamu sendiri bagaimana?" Pierre balik bertanya.

"Aku belum batal. Ini pakailah untuk berwudhu." jawab Sebastian sembari mengulurkan botol minum kepada Pierre. "Basuh secukupnya saja." pesan Sebastian menyambungkan. Pandangannya sambil menyapu ke arah yang lebih layak untuk mereka sholat, saat Pierre memulai wudhunya di pinggir trotoar di depan toko roti Broast. Kumandang iqomah sudah hampir berakhir, namun mereka masih belum bersiap pula di dalam barisan sholat.

Seorang laki-laki tua dengan jenggot yang disemir merah, umumnya jamaah haji dari Bangladesh memakai pewarna dari tumbuh-tumbuhan untuk menyemir rambut, kumis dan jenggot mereka, tampak melambaikan tangan mengajak mereka merapat ke shaf yang telah disusun laki-laki tua itu bersama dua jamaah yang lain. Sebastian segera merapatkan diri, berniat dan segera bertakbiratul ikrom. Pierre segera menyusul di sebelah kanannya.

Tanpa alas sajadah sama sekali, Pierre merasakan sengatan panas ketika paving trotoar itu bersentuhan dengan dahi pada setiap sujudnya. Ya, walaupun sudah masuk waktu ashar pun, tempat berpijak mereka saat itu masih cukup mendapat terik sinar matahari. Apalagi suhu udara Makkah saat ini bisa mencapai 45 sampai 47 derajat Celcius. Maka tak ayal kemudian, Pierre pun menangis terisak-isak dalam sholatnya. Di dalam hatinya terus berdzikir beristighfar memohon ampun atas kesalahannya melalaikan panggilan sholat ashar tadi. Ia merasa Allah sedang menghukumnya saat itu juga. Air wudhu sudah tak berbekas sama sekali di kulitnya saking panasnya pavement di sore itu.

"Ini masih ashar saja sepanas ini, bagaimana kalo ini waktu dhuhur? Terima kasih ya Allah, aku ikhlas Engkau hukum seperti ini. Aku lalai ya Allah, ampunilah aku. Sayangilah aku ya Allah!" jerit dalam hatinya berulang-ulang seperti gemuruh ombak yang bergulung-gulung tiada usai dan memecah di tepi pantai saja. Isak tangisnya masih susul menyusul, bahkan hingga jamaah fardhu selesai berganti dengan ajakan muadzin berjamaah berikutnya untuk shalat jenazah. Di Al Haram, hampir setiap usai jamaah fardlu selalu disusul dengan sholat jenazah.

"Lain kali atur waktu dan rencana lebih baik lagi. Malu aku kalau tertinggal seperti ini." gerutu Pierre pada dirinya sendiri setelah jamaah ramai mulai berdiri dan bubar. Sesekali tangannya berusaha menyeka mata dan pipinya. Sebastian yang mendengarnya hanya tersenyum. Ia pun juga mahfum akan gerutuan sahabatnya itu.

Sebenarnya rancangan mereka tadi sudah cukup baik. Jam satu seusai jamaah jumat, mereka segera bergegas ke arah pertokoan di distrik Misfalah selatan Al Haram. Harapannya mereka punya cukup waktu sekitar dua setengah jam sebelum masuk waktu ashar, untuk berbelanja atau setidaknya survey barang di Misfalah sana. Itu sudah cukup dengan bolak-baliknya juga, semestinya. Namun naasnya, mereka tak menyadari bahwa bubaran jamaah jum'ah dari Haram menuju Misfalah, sebagaimana juga ke arah Jarwal dan Aziziah, merupakan perjuangan menembus rapatnya manusia yang seolah berbaris dalam gerakan perlahan. Sehingga jarak pertokoan yang tak lebih jauh dari setengah mil itu pun baru bisa mereka jangkau dalam waktu setengah jam pula.

Ditambah lagi akibat tersesat arah karena belum pernah melancong sama sekali ke daerah itu. Mereka sempat berbelok ke kanan ke arah Bakhutmah, karena jalannya yang tampak lebih besar dan lebih banyak pula jamaah yang berbelok ke arah itu.

Meskipun semalaman mereka sudah banyak bertanya kepada Diouf, petugas hotel Le Meridien tempat mereka menginap dan yang dulu bertugas mendampingi umroh awal mereka, namun karena tak dilanjutkan dengan melihat ke lokasi langsung, akhirnya mereka tersesat juga. Sebenarnya pula, hotel Le Meridien sangat dekat dengan blok pertokoan ini, karena Le Meridien di sebelah timur bukit Misfalah, dan pertokoan di sebelah baratnya. Hanya saja itu harus ditempuhi dari terowongan yg juga rutin dilalui bus Saptco pada arah pulangnya dari Menara Jam.

Apesnya bagi mereka berdua, bahasa Inggris keduanya tak begitu fasih, didukung aksen perancis mereka yang sengau, membuat percakapan mereka dengan orang-orang yang mereka jumpai cukup menyulitkan untuk saling paham. Bangsa Arab, India, Asia Timur maupun rumpun Melayu yang banyak mereka temui di distrik pertokoan itu semuanya kesulitan bercakap-cakap dengan mereka.

Nasib baiknya, setelah sempat berputar-putar tak tentu arah di daerah pertokoan itu, hingga sempat kebablasan di bawah fly over tempat pembagian halalan dari Raja Arab, akhirnya mereka berjumpa dengan seorang pemuda asal Indonesia yang bisa berbahasa Perancis pula di seputaran kios buah. Pemuda itu bahkan rela menemani mereka mencari-cari toko dan barang yang sedang mereka tuju.

Sebenarnya, Pierre ingin membeli sajadah berwarna ungu yang tampak cantik saat dilihatnya beberapa hari sebelumnya. Sajadah Turki yang dipegang oleh Fatimah, seorang nenek dari Indonesia pula. Ia sempat mencari di toko-toko di dalam Menara Jam, namun tak ditemuinya sajadah yg sama dengan milik nenek dari Indonesia itu. Sekarang kebetulan ada seorang Indonesia yang menemaninya, ia pikir pemuda Indonesia itupun tahu pasti letak toko yang menjual sajadah yang sama persis dengan milik nenek tersebut. Sayangnya, walaupun pemuda yang menemani mereka itu pemuda Indonesia, dan pertokoan Misfalah juga merupakan pusat perdagangan karpet, sajadah, kain dan pakaian yang sangat lengkap di Mekkah, akan tetapi bahkan ketika adzan ashar mulai berkumandang pun mereka belum pula menjumpai sajadah yang diidam-idamkan itu. Banyak pilihan sajadah, namun belum sama dengan yg diinginkan Pierre.

Usai bangkit dari trotoar tempat sholat tadi, mereka mulai menepi dan meneruskan berjalan ke arah serambi Al Haram. Proritas mereka saat ini untuk merampungkan jamaah maghrib dan isya di dalam masjid dulu, rencananya di lantai atas bergabung dengan rombongan mereka yang lain yang dipimpin Abdullah. Mereka sudah saling berjanji untuk bertemu di depan gerbang no. 91, di bawah tiang lampu terdekat. Urusan belanja belakangan saja. Nyali mereka betul-betul ciut jika sampai tak bisa berjamaah dengan baik seperti tadi, apalagi bila sampai terlewatkan jamaahnya. Langkah mereka sempat terhambat kerumunan orang yang mulai memesan makanan di toko roti yang mulai buka kembali. Semua toko memang menutup counternya saat jamaah fardlu, bahkan semua staffnya pun ikut bergabung berjamaah di trotoar atau selasar di depan tokonya masing-masing. Begitu jamaah usai, aktivitas dagang pun dimulai kembali. Seperti halnya toko roti itu tadi.



Jelang pukul lima sore, di dalam masjid Al Haram, Sayid mulai terkantuk-kantuk saat mendarus Al Quran-nya. Ia terpaksa harus mengulangi bacaannya dari ujung atas halaman bilamana terlewatkan ayat mana dia terakhir kali membaca sebelum akhirnya terkantuk-kantuk lagi. Selepas ashar memang waktu yang paling berat baginya. Di waktu yang lain, ia bisa bebas bergerak sehingga tidak sampai mengantuk dengan menunaikan sholat-sholat sunnah, selain pilihan mendarus Al Quran. Namun jika lepas ashar, tak ada pilihan lain selain mendarus Al Quran. Ada pula pilihan untuk tidur-tiduran saja di sini, atau malah sekalian thawaf di bawah sana. Ia tak sampai hati untuk merebahkan diri beristirahat sejenak seperti beberapa jamaah yang lain di dekat situ. Khawatir jika betul-betul tertidur, dan harus mengulang wudhu di saat yang sudah dekat dengan adzan, karena ia tak sanggup untuk bolak-balik dari tempat wudhu di serambi masjid di bawah sana dan kembali ke lantai tiga ini. Oleh karenanya, wudhunya betul-betul dijaga agar tak sampai batal bila sudah tinggal setengah jam dari waktu adzan. Untuk ke kamar kecil di bawah tanah serambi sana, biasanya hanya dilakukannya bila sudah persis selesai jamaah fardhu. Waktunya akan sangat longgar. Bahkan cukup pula waktu untuk memesan segelas teh susu dan sekotak kentang goreng di toko roti sana.

Beberapa rekan memang ada pula yang berwudhu di tempat kran air zamzam. Namun baginya untuk menyia-nyiakan zamzam seperti itu bila tidak terpaksa dan mendesak betul merupakan satu hal yang berat. Malu sekali rasanya kepada Allah bila ia harus berbuat berlebihan seperti itu. Demi mencegah kantuknya, sebotol sprayer yg telah diisi air dari kamar penginapan disemprotkannya guna membasahi dan membasuh wajahnya. Percikan air itu cukup menyejukkan kulitnya di saat udara Al Haram mulai kering dan panas seperti sore ini. Hatinya mulai menimang-nimang, apakah dia sebaiknya turun ke lokasi thawaf di bawah sana atau dia akan tetap duduk di sini saja sambil menahan kantuknya. Belum selesai ia menimang-nimang, tiba-tiba bahunya disergap oleh tangan yang cukup kuat milik pak Mursyid, ketua regunya.

"Mbah Sayid di sini rupanya." pak Mursyid atau rekan-rekan yang lain lebih akrab memanggilnya pak Karu membuka percakapan. "Dengan siapa di sini Mbah?"

"Enggih Mas, cuma sendirian. Tadi dengan pak Tono dan pak Mochtar waktu jumatan. Trus, mereka pamitan makan siang kok belum balik lagi ke sini. Mungkin pindah di tempat lain. Kebetulan ada Njenengan di sini sekarang, saya nggak jadi ngantuk. Hehehe" jawab Sayid menimpali pertanyaan pak Karu.

Pak Karu cuman ikut terkekeh mendengarnya. "Lha mbok dipakai tadarusan, ketimbang ngantuk, mbah!"

"Sampun, Mas. Dapat lima klebet, mata saya sudah minta merem terus. Klira-kliru wae ini tadi, mesti ngulangi dari atas lagi di halaman terakhirnya. Saya nyerah wis, ga kuat." terang Sayid.

Tak berselang lama obrolan mereka mulai berganti tema. Dari membicarakan sisi barat bangunan di Haram yang terus dikebut penyelesaiannya, berganti kabar bu Tutik salah satu jamaah rombongan mereka yang pagi tadi harus dilarikan ke rumah sakit, terus persiapan ke Armina dalam waktu dekat, hingga tentang cara menembus rapatnya barisan thawaf di seputaran Hajar Aswad, Multazam dan Hijir Ismail.

"Njenengan sudah bisa sampai di sana semuanya, mbah?" tanya pak Mursyid yang dijawab dengan gelengan pelan Sayid.

"Belum, Mas. Dua kali saya coba mepet ke sana, kalah kuat dengan jamaah-jamaah lain. Saya kalau harus rebutan begitu nggak bisa, Mas. Saya takut dzolim." jawab Sayid lirih. Pandangan matanya menatap lekat ke arah Multazam Ka'bah, yang berada di antara hajar aswad dan pintu Ka'bah. Sinar matanya masih memancar seperti menegaskan api harapannya untuk dapat menggapai Hajar Aswad dan Multazam, sekaligus sholat sunnah di Hijir Ismail.

"Habis maghrib nanti turun ke sana bareng saya nopo pripun, mbah? Kita coba lagi, siapa tau Gusti Allah paring gampil semuanya" pak Mursyid mengajak thawaf selepas jamaah maghrib. Sayid menoleh dan menatap erat ke wajah Mursyid seolah-olah berharap tidak salah dengar.

"Bakdo maghrib itu pas padat-padatnya lho Mas." ada keraguan terbersit dalam jawabannya.

"Sepertinya begitu, mbah. Asalkan niat kita kuat, insya Allah diparingi gampil." Mursyid menyemangati kembali. Tak berselang lama, adzan maghrib berkumandang menghentikan percakapan mereka. Keduanya pun mulai bersiap merentangkan sajadah mereka kembali.


Di saat bersamaan dengan Sayid dan Mursyid menggelar sajadahnya, serombongan orang yang tinggi besar menyeruak menembus ke shaf-shaf terdepan. Sayid beringsut merapatkan barisannya dengan Mursyid, untuk memberi ruang yang lebih lapang kepada jamaah lain yang terdesak oleh rombongan yang baru datang tadi.

Di ujung belakang rombongan tadi tampak tergopoh-gopoh Pierre bersama beberapa rekannya yang lain, tampaknya ia cukup terhambat untuk mencapai shaf di lantai 3 ini bersama rekan-rekan satu rombongan yang telah bertemu di depan gerbang masjid ini. Pierre ikut menyusul menerobos barisan sholat yang tampak agak longgar setelah didesak rombongan di depannya. Kebetulan sekali lokasi barisan yang mereka tuju di depannya sudah penuh, sehingga sebagian yang lain terpaksa mundur kembali. Demikian pula dengan Pierre dan kawan-kawannya, terpaksa membuat shaf yang benar-benar baru di antara shaf depan yg telah penuh dan shaf Sayid di belakangnya yang juga telah penuh, karena tidak kebagian barisan. Bahkan kakinya saat ini berpijak di bagian atas sajadah milik Sayid. Ia gugup menemui dirinya berada di tempat yang "salah" ini. Konsentrasinya jadi kacau, bahkan keringatnya mulai menitik di dalam udara yang kering di dalam masjid Al Haram ini.

Sayid demi menemui tempat sholatnya menyempit tinggal kurang dari 3/4 panjang sajadahnya saja, hanya melafadzkan istighfar secara beruntun, sambil menegaskan keyakinan dalam hatinya seperti yang telah dialami sebelumnya.

"Tidak ada tempat sempit di dalam masjid Allah ini. Semuanya tamu Allah, akan dijamu Allah dengan sebaik-baiknya pula." Demikian ia menegaskan dalam tekadnya. Memang sebelumnya, beberapa kali ketika berada di shaf depan, ia sempat mengalami harus terdesak oleh beberapa jamaah yg memaksa mendapatkan tempat sholat. Namun ia dengan segala keyakinannya akan kebesaran Allah yang menjadikan dirinya tamu Allah, masih bisa melaksanakan sholat tanpa merasa kesempitannya sama sekali.

Bahkan saat ini, ketika nampak olehnya gerak-gerik kegugupan jamaah di depannya, yang muncul justru rasa kasihan di dalam batinnya kepada jamaah itu. Sholat maghrib telah dimulai, hati dan pikiran Sayid mulai ia pusatkan sepenuh-penuhnya utk menghadapkan wajahnya hanya kepada Allah. Dia seolah telah mendapati dirinya di antara jutaan jamaah yg bersama-sama rukuk dan sujud, membentuk suatu barisan yg begitu indah dan rapi dalam padang hijau yang sedemikian luasnya.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar" kalimat itu terus mengalir dalam benaknya hingga usai bersalam. Allah Maha Besar, dan dia sangat kecil dalam pandangan itu. Ruang yang semula sempit di sekitarnya tadi betul-betul menjadi lebar selebar-lebarnya. Sekali lagi, Sayid mengalaminya di dalam Al Haram ini, dalam lingkup yang semestinya dia kesulitan bergerak, apalagi untuk bersujud, ternyata badan dan kepalanya begitu bebas dalam lingkup yang sesungguhnya hanya lebih sedikit panjang dari separuh sajadahnya itu. Air matanya terus berderai demi menyadari kebesaran kuasa Allah ini.

Usai bersalam, Sayid bergegas menyusulinya dengan sholat rawatib sebelum sholat jenazah dimulai. Pierre diam tak bergerak dalam duduknya, karena ia belum bisa menyibak separuh sajadah yang didudukinya. Pemilik sajadah di belakangnya cepat sekali dalam menyambungkan sholat demi sholat.

"Hei, sajadah ini sajadah yang kucari-cari tadi!" Pekik dalam hatinya girang demi mengetahui sajadah ungu yang didudukinya ini sama persis dengan sajadah yang diburunya tadi.

"Aku akan segera minta maaf, sekaligus cari tahu di mana kakek ini mendapatkannya." Rencana itu begitu saja mengalir dalam benak Pierre, diikuti dengan bayangan wajah penuh senyuman Marrion yg bahagia menerima hadiahnya ini, sebelum kemudian bayangan itu terbuyarkan oleh tangan Sebastian yg meraih pundaknya, mengajak untuk segera bangkit berdiri menyisih dari sajadah yang dipijaknya.

Saat Pierre menoleh ke belakang kemudian, didapatinya kakek di belakangnya telah selesai melipat sajadah ungunya dengan rapi. Tak lama kemudian pandangan kedua insan ini saling beradu, dan disusul tangan kiri sang kakek yang meraih tangan kanan Pierre. Sayid menyodorkan sajadah ungu itu kepada Pierre sambil berkata, "Ini sajadahmu, Nak!"

Pierre hanya terbengong saja ketika tangan kirinya pun didekapkan ke sajadah itu oleh tangan kanan Sayid. Ia tak bisa berkata-kata ketika telunjuk Sayid menuding-nuding sajadah itu dan dada Pierre, seolah menegaskan bahwa sajadah itu benar-benar diberikan kepadanya. Ia masih terpaku terharu mendapati kebaikan hati sang kakek tersebut, yang mana tak marah sedikit pun akibat sajadahnya terinjak oleh Pierre, melainkan malah dengan penuh senyuman dan rasa senang hati menghadiahkan sajadah ungu yang diidam-idamkannya itu.

Udara di lantai satu seputar Ka'bah terasa sangat sejuk bagi Sayid yg sedang menuruni anak-anak tangga dari lantai dua bersama Mursyid untuk mulai melaksanakan thawaf. Kerumunan jamaah yang sedang berthawaf itu seolah tersibak membentangkan jalan memberi ruang bagi keduanya. Dalam dua putaran thawaf saja, Sayid mendapati dirinya telah berada di depan hajar Aswad, dan sejenak berikutnya telah berada di bawah Multazam tanpa bersusah payah ataupun saling berdesakan dengan jamaah lain.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!" Sayid mulai melafadzkan doa dan puji syukurnya kepada Sang Khalik di bawah Multazam itu. Kakinya terus merambat ringan di antara ribuan jamaah yang ada di sekitarnya hingga Mursyid menepuk pundaknya untuk beralih berganti dengan jamaah lain di dalam lingkup Hijir Ismail itu.

Di tempat lain di lantai tiga Al Haram tadi, Pierre menjalankan sholat-sholat sunnah dengan penuh kesyukurannya di atas sajadah "baru"-nya itu. Ia merasakan Allah sebegitu dekat dengan dirinya, seolah memeluk dirinya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Rakaat demi rakaat terus dia sambungkan. Entah sholat apa yang dilakukannya, yang terutama tersembul bulat dalam hatinya adalah niat syukurnya atas segala karunia Allah kepadanya selama ini. Pierre, sang mualaf, menemukan dirinya berada di sebuah jalan yang sangat terang benderang namun tiada menyilaukan.