Saya yakin, semua kawan-kawan di sini pasti mencintai dan menyayangi
dengan amat sangat seluruh keluarganya. Kepada suami/istri, kepada anak
cucu cicit, kepada ayah ibu, kepada kakak adik, dan kepada saudara2 yg
lain. Walaupun setiap hari ada saja yg diributkan, buah pertengkarannya
hingga kadang saling mendiamkan, tetapi dengan adanya rasa cinta
dan sayang itu pasti akan saling melekatkan satu sama lain. Tak ada yg
ingin keluarganya sakit atau disakiti, tak ada yg ingin keluarganya
terkena bencana ataupun musibah.
Tak hanya keluarga, demikian pula dengan sahabat-sahabat karib kita,
kita pun tak rela jika mereka jatuh sakit, terkena cobaan dan musibah.
Tetapi ... Yang sebatas kita mampu upayakan hanyalah mengobati si
sakit, dan menolong yg sedang terkena musibah. Itu saja.
Ketika tiba saat kita berpisah atau dipisahkan, baik yg sifatnya
sementara ataupun yg selamanya, itulah sesuatu yg tak mampu kita berbuat
apapun utk mencegahnya, sering kali kita lupa bahwa masa itu PASTI
DATANG dan PASTI TERJADI.
Saat perpisahan yg bersifat selamanya itu adalah MAUT yg kelak
menjemput kita. Entah itu sedetik lagi, sehari berikutnya, sebulan
kemudian atau bahkan berpuluh tahun yg akan datang.
Ada banyak macam sikap yg muncul terhadap datangnya saat perpisahan
tersebut. Terkadang bahkan ada yg tak terima dengan kenyataan
perpisahan itu, sehingga kemudian menyalah-nyalahkan orang lain yg
dianggap tdk berusaha keras utk mencegahnya terjadi, hingga terkadang
kebablasen .... Menyalahkan TUHAN.
Ada pula yg sedemikian takutnya bertemu dengan kematian, sehingga
jika dia kaya maka diupayakan segala pengamanan berlapis-lapis untuk
menjaga nyawa satu-satunya itu dengan mepekerjakan bodyguard yg jago
gelut atau bahkan tentara bayaran satu batalyon, anjing2 galak di balik
tembok pagar rumahnya yg seperti benteng, semua orang yg akan bertemu
dengannya dan makanannya pun harus "steril".
Ada yg menurut saya lebih gila lagi, karena sudah tak tahan dengan
beratnya cobaan hidup, justru meminta-minta agar kematiannya
disegerakan. Bahkan hingga BUNUH DIRI.
Yg tak kalah gila dan terkutuknya adalah orang-orang yg sedemikian
ringan hatinya utk mendatangkan kematian atau mempercepat kematian bagi
orang lain. Kita sudah pasti mengutuk orang2 seperti Hitler, Mussolini,
Stalin dan Westerling yg mewakili para pembunuh2 keji itu. Tapi
sadarkah kita akan peranan diri kita sbg "pembunuh yang tersamarkan"?
Mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan, makan dengan pola yg tidak
sehat, tidak berolahraga, bekerja secara ceroboh, merokok, konsumsi
psikotropika/miras, dan sex bebas juga termasuk dalam golongan itu.
Sadarkah kita?
Orang bijak mengatakan bahwa "penyesalan hanya datang di akhir
kemudian", ... karena yang datang di awal itu namanya "pendaftaran",
hehehehe ... Senyampang kita belum bertemu ujung akhir dari sebuah acara
perpisahan, bolehlah kita menata bekal bagi diri kita maupun anggota
keluarga kita.
Bekal apa saja itu?
1. Bekal hatinya
Ingatkan terus diri kita dan keluarga kita bahwa siapa pun pastilah
akan tiba masa perpisahan, entah kapan dan bagaimana kejadiannya.
Sehingga tak perlu takut untuk meninggalkan atau pun ditinggalkan.
Ingatkan pula bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara, bukan
kehidupan yang sesungguhnya akan abadi kelak. Justru kebahagiaan bagi
mereka yg telah tiba waktunya, jikalau bekal mereka telah siap jauh-jauh
hari. Tak perlu lagi mereka risau dengan naiknya tarif listrik dan
bbm, setoran target perusahaan, ruwet dan macetnya jalan ke tempat
kerja, atau masalah2 dunia yg lainnya.
2. Bekal materi utk yang ditinggalkan
Sebelum bepergian, pastikan kita telah menyiapkan materi untuk yg akan ditinggalkan.
- Uangnya utk belanja/biaya hidup, bahkan jika perlu jaminan hidup dalam jangka panjang berupa tabungan/investasi/asuransi.
- ilmu pengetahuannya utk tak sekedar bisa survive, bahkan harus overcome dalam kehidupannya,
- akhlaknya yg teguh dlm menjalani hidup agar kelak bertemu di tempat yg sama dg yg kita janjikan nantinya
3. Bekal untuk jarak dekatnya utk yg akan bepergian.
Sifat bekal adalah utk urusan duniawi, misal progres dan tanggung
jawab pekerjaan2nya shg tidak membebani siapapun yg kelak jadi
penerusnya.
Tak hanya yg intern dalam diri sendiri, namun juga yg melibatkan orang lain juga harus disiapkan.
Mencerdaskan anak buah dan anak didik adalah salah satu contohnya.
4. Bekal untuk jangka panjangnya utk yg akan bepergian.
Inilah bekal yg akan dibawa masing2 utk melalui alam barzah hingga sampai alam akhir.
Kelas mana yg kita pilih nantinya tergantung dari bekal ke-4 ini.
Jika ingin kelas VVIP yg eksklusif dan serba nyaman, ya tentu harus
ikhlas doa dan niatnya, berlebih-lebih amalannya, tegak akhlak dan iman
taqwanya, tak tertinggal wajib dan sunnahnya, terperhatikan amal
muamalahnya.
Jika sekedar kelas Bisnis atau ekonomi, ya asal serba baik saja ketaqwaannya mungkin cukuplah.
Jika suka perjalanan akhir yg penuh "tantangan" dan pengin merasakan
kelas "adventuring" yg penuh siksaan, justru lebih gampang bekalnya
... Eh, malah nggak usah menyiapkan apa2. Hehehehe, siapa tahu tetap
bisa eksis dan survive. Siapa tahu ya?
Coba disimak sebuah syair lagu Acil Bimbo berikut ini (kalau paham
lagunya, bolehlah sambil dinyanyikan, asal tidak mengganggu orang di
sekitarnya) :
Hidup bagaikan garis lurus, tak pernah kembali ke masa yang lalu
Hidup bukan bulatan bola yang tiada ujung dan tiada pangkal
Hidup ini merangkak terus, semakin mendekat ke titik terakhir
setiap langkah hilanglah jatah menikmati hidup nikmat di dunia
Pesan nabi tentang mati
jangan takut mati karna pasti terjadi
Setiap insan pasti mati, hanya soal waktu
Pesan nabi tentang mati
janganlah minta mati datang kepadamu
dan janganlah kau berbuat menyebabkan mati
Tiga rahasia Illahi yang berkaitan dengan hidup manusia
Kesatu tentang kelahiran
Kedua pernikahan
Ketiga kematian
Penuhi hidup dengan cinta, ingatkan diri saat untuk berpisah
Tegakkan sholat lima waktu dan ingatkan diri saat disholatkan
Pesan Nabi jangan takut mati
meski kau sembunyi, dia menghampiri
takutlah pada kehidupan sesudah kau mati
Renungkanlah itu
Selamat bersiap-siap, Kawan!
1st December 2013 ...
ditulis ulang sbg kenangan bersama abah H. Setiyanto
