Rabu, 04 November 2015

Harta Terbaik Papa Andi Yang Nyaris Hilang


Papa Andi mulai gusar. Belum sampai ia beranjak tidur, Nilam putri semata wayangnya yg baru saja genap setahun usianya, sudah ngompol kali yang ke lima. Tak hanya ngompol saja, namun juga bercampur .. maaf, eek.

Gusarnya Papa Andi bukan karena di saat badannya yg capek butuh istirahat justru terganggu oleh rengekan si buyung. Bukan pula karena ia harus repot membantu Mama Tiwi mengganti pakaian Nilam dan membersihkan kotorannya. Bukan itu, walau gerutuan mulutnya memang seolah menjelaskan itu.


Gusarnya Papa Andi karena Nilam dalam dua hari ini jadi rewel serewel rewelnya. Jadi cengeng, jadi sering ngompol bahkan sampai eek, tidurnya tak pernah nyenyak. Tiap papa Andi dan mama Tiwi mau berangkat kerja, selalu saja Nilam menangis menjerit jerit tak mau ditinggalkan. Dan di antara kegusarannya, terselip kecemasan dalam hati papa Andi. Ia merasakan Nilam tak sekedar rewel tak mau ditinggalkan, namun badannya bahkan sampai menggigil ketakutan.

Sayangnya memang ... Nilam belum bisa bicara walau ia sudah duluan bisa berjalan. Tak banyak kata yg bisa dia ucapkan. Tak begitu jelas pula apa yg ingin ia sampaikan. Yang ada hanyalah begitu mama Tiwi atau papa Andi tiba di rumah, Nilam langsung merangkul erat mama atau papanya sambil menangis terisak. Dan badannya pun sampai menggigil.

Pagi harinya, papa Andi minta ijin pada bossnya utk terlambat kerja guna membawa Nilam ke dokter anak langganannya terlebih dahulu. Badan Nilam semalam sempat demam walau tak tinggi. Namun ada keganjilan yg tampak nyata pada pagi ini, setelah tahu bahwa ia akan diajak pergi papa dan mamanya, Nilam pagi ini tidak rewel sama sekali. Ia bahkan tersenyum riang, bahkan mengocehkan kata-kata yg entah apa maksudnya secara ceriwis. Tampaknya Nilam sangat gembira demi bisa tetap berkumpul dengan papa mamanya di pagi ini.

Mata Dokter Iskandar melotot ke arah papa Andi. Nada suaranya meninggi karena emosinya saat menunjukkan tiga lokasi lebam pada badan Nilam kepada papa Andi dan mama Tiwi.

"Ini apa?" Tanya dokter Iskandar pada mereka. Papa Andi dan mama Tiwi hanya menggelengkan kepala isyarat tak tahu menahu asal mula lebam biru di tubuh Nilam itu. Lengan atas sisi belakang, kedua pantat dan sisi belakang pinggang kiri tampak lebam biru yg di kemudian waktu akan dijawab dg dalih terjatuh oleh pengasuhnya.

"Anda bekerja?" Ganti mama Tiwi yg setengah dihardik oleh dokter Iskandar. Mama Tiwi hanya mengangguk dengan wajah kebingungan. Baik mama Tiwi maupun papa Andi sama-sama belum menangkap arah kemarahan dokter Iskandar.

Dokter Iskandar merapikan kembali baju Nilam. Diusapnya kepala dan punggung Nilam dengan penuh kasih sayang. Dicukupkannya memeriksa kondisi Nilam utk melanjutkan menggali informasi dari papa dan mama Nilam.

"Siapa yang mengasuh si cantik ini jika anda berdua bekerja?" Suara dokter iskandar sudah melunak. Mama Tiwi pun menyebutkan nama mbak Nunuk, asisten rumah tangga yg sudah ikut bersama mereka sejak sebelum Nilam lahir.

"Ada orang lain selain mbak Nunuk itu yg tinggal di rumah anda?" Papa Andi dan Mama Tiwi menggeleng. Dokter Iskandar mengernyitkan dahinya karena menangkap keanehan dalam kasus Nilam ini. Kecurigaannya sedikit berbenturan dengan kenyataan bahwa sang pengasuh adalah orang yang sudah lama tinggal bersama keluarga majikannya.

Dokter Iskandar kemudian menjelaskan diagnosanya. Bahwa Nilam yg sempat demam, sering ngompol, rewel bahkan ketakutan itu sebab musababnya dari hadirnya lebam biru di badannya itu. Bukan karena penyakit akibat bakteri atau virus. Sayangnya baik papa Andi dan mama Tiwi tak pernah memperhatikannya, karena mereka memang cukup lama tak pernah memandikan Nilam sendiri.

"Dengan mengambil alih porsi memandikan, memakaikan baju, atau bahkan bila sempat ... memberi terapi pijatan sendiri kpd balita anda, maka anda dapat memantau sendiri kondisi dan perkembangan tubuh ananda." Pesan dokter iskandar.

"Tampaknya sisi psikologis ananda yg terganggu. Apa sebabnya coba anda cari tahu lebih dulu. Tak perlu obat medis utk demam dan ngompolnya ananda. Lihatkan ... dia cukup nyaman saat ini."

Sambil memohon maaf karena kecurigaannya, dokter Iskandar menyarankan papa Andi utk memasang kamera tersembunyi utk memonitor Nilam selama seharian mereka tinggalkan. Satu saran yg sebenarnya kurang pas disampaikan seorang dokter anak. Namun saran itu pula yg kelak menjadikan papa Andi dan mama Tiwi mengubah pola perawatan tumbuh kembang Nilam di dalam pengasuhan mereka sendiri, setelah tahu tingkah polah mbak Nunuk dalam memperlakukan Nilam yg memang mulai aktif berjalan mengeksplorasi lingkungannya.