Rabu, 18 Mei 2016

Daur Ulang : Tas Punggung dari Plastik Bekas

Alat dan bahan :

  1. Beberapa plastik bekas kemasan sabun /atau pewangi pakaian, kalau bisa yang sejenis atau sesuai design yang diinginkan.
  2. Kain furing tas (bisa pakai kain sponboond)
  3. Resleting
  4. Bisban besar dan kecil.
  5. Ceklekan.
  6. Tali bis / Talikur
  7. Spon
  8. Perekat
  9. Gunting/Cutter
  10. Peralatan jahit
CARA MEMBUAT TAS PUNGGUNG DARI SAMPAH PLASTIK

Cara membuat :

1. Siapkan beberapa plastik bekas bungkus sabun cuci atau pewangi pakaian.
2. Gunting bagian atasnya dengan rapi.
3. Cuci plastik tersebut sampai bersih dengan menggunakan sabun cuci.
4. Keringkan dengan dijemur atau di lap denngan menggunakan kanebo.
5. Potong dan jahit (untuk membentuk lembaran sebelum dipola)
6. Potong sesuai pola. (Pola bisa dibuat sesuai keinginan)
7. Sebelum dirangakai menjadi tas, pasang kain furing, spon, tali tas, ceklekan, perekat, resleting dll.nya.
8. Rangkai semua komponen tadi sampai membentuk tas punggung.

Refferensi :
http://rumah-plastik.blogspot.co.id/2015/04/cara-membuat-tas-punggung-dari-sampah.html

Daur Ulang : Tas dari Plastik Bekas

Plastik adalah jenis sampah yang paling sulit diuraikan oleh tanah. Untuk itu kita harus bisa memanfaatkan plastik bekas menjadi barang yang bermanfaat. Plastik bekas kemasan apapun bisa kita daur ulang menjadi tas yang bermanfaat. Dengan sedikit kreatifitas barang bekas tersebut bisa kita sulap menjadi tas yang berguna bagi kita. Berikut proses pembutan tas dari plastik bekas.



Alat dan bahan yang digunakan :
  • 1.      4 kemasan plastik 450 ml dengan corak dan warna yang senada (2 buah untuk sisi depan dan belakang, 2 buah lagi untuk sisi kiri dan kanan). 50cm bisban dengan ukuran lebar 3cm untuk tali tas.
  • 2.      1 m bisban dengan ukuran lebar 2cm.
  • 3.      4 cm perekat
  • 4.      30 cm renda katun sebagai pemanis.
  • 5.      Jarum (ukuran 16) dan benang jahit berwarna senada.


Cara membuat tas dari plastik bekas :


  • 1.      Bersihkan noda kemasan plastik dengan kertas tisu, kalau tidak bisa rendam dengan air hangat. 
  • 2.      Gunting dua buah kemasan dengan ukuran yang diinginkan. Usahakan potongan kedua kemasan plastik memiliki ukuran yang sama.
  • 3.      Gunting dua kemasan lain (untuk sisi kiri dan kanan) menjadi dua bagian lebarnya (7cm). Jahit bisban pada sisi lebar masing-masing kemasan yang sudah dipotong.
  • 4.      Pasang dan jahit perekat, dengan menggunakan mesin jahit, pada bagian dalam masing sisi depan dan belakang.
  • 5.      Pasang dan jahit bisban lebar 3cm pada bagian permukaan plastik (sisi depan dan belakang), sebagai tali tas.
  • 6.      Kemudian pasang dan jahit renda katun sekaligus bisban pada sisi atas lembar kemasan plastik. Lakukan langkah ini pada kemasan plastik untuk sisi depan dan belakang.
  • 7.      Sambungkan kedua kemasan plastik yang sudah dipotong berukuran 7cm (untuk sisi kiri dan kanan tas). Sehingga membentuk lembaran panjang.
  • 8.      Hubungkan dan sambung dengan jahitan mesin, bagian tadi (no.7) dengan lembaran plastik untuk sisi depan dan belakang.
  • 9.      Lalu pasang bisban pada seluruh tepinya. Nah Jadilah sebuah tas mungil nan cantik, berbahan kemasan plastik. Cara yang sama juga bisa Anda lakukan untuk tas yang berukuran lebih besar, lho. Tinggal ganti ukurannya saja.


Silakan untuk mencoba


Refferensi :
http://www.larizo.com/kerajinan-tangan-tas-cantik-terbuat-dari-plastik-bekas/

Selasa, 17 Mei 2016

Wisata Religi Sunan Pojok ... Cikal Bakal Kota Blora

Cikal Bakal Kota Blora setelah era pemerintahan Kadipaten Jipang Panolan yang berpusat di daerah Kedungtuban, dimulai dari kisah perjuangan Sunan Pojok. Beliau dikenal sebagai sosok waliyullah yang menyebarkan agama islam di daerah Blora. 


Sunan Pojok memiliki nama lain di antaranya (istilah Jawa = dasa nama), yaitu Pangeran Pojok , Pangeran Surabaya, Pangeran Surabahu, Pangeran Sedah, Syaikh Amirullah Abdurrochim dan Wali Pojok Blora. Beliau juga disebut Mbah Benun sesuai nama kecilnya. 

Salah satu riwayat menyebutkan bahwa beliau adalah seorang Panglima Perang dari Mataram Yogyakarta yang ditugaskan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo untuk memimpin perang melawan VOC di Batavia, dan berhasil menang pada tanggal 20 Nopember 1626. Ini menjadi satu - satunya peperangan yang dimenangkan oleh tentara Mataram atas VOC dan tercatatkan di dalam Arsip Nasional. 


Selain memerangi VOC, Sunan Pojok juga ditugaskan menumpas pemberontakan sejumlah Adipati yang "mbalelo" kepada kerajaan Mataram di sebagian daerah seperti di Pati, Tuban, Pasuruan serta Surabaya, yang juga berhasil dimenangkan dengan gemilang. Hingga kemudian beliau diganjar dengan kedudukan sebagai Adipati Tuban.

Setelah berhasil melaksanakan tugas beliau dalam menumpas pemberontakan, Sunan Pojok kemudian melapor kepada Sultan Agung Hanyokrokusumo di Mataram. Namun sayangnya, sekembalinya dari Mataram beliau kelelahan dan menderita sakit hingga akhirnya meningggal dan dimakamkan di desa Pojok, Karangnangka, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. 

Kemudian makam beliau dipindahkan oleh putera beliau RM. Sumodito atau Jaya Dipa, yang telah diangkat menjadi Bupati Blora pertama kali oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, ke Makam Gedhong Blora di Jl Mr.Iskandar I/1 Blora saat ini, atau di sebelah selatan alun -alun kota Blora.

Selama hidup beliau dipenuhi pengabdian kepada pemerintah kerajaan Mataram, dan juga tak lepas untuk mengayomi rakyat sehingga beliau sangat terkenal dan dicintai rakyatnya. Bahkan berbagai jabatan yang di emban beliau sebagai Panglima Perang dan Adipati, kemudian dilepaskan untuk akhirnya menjadi Waliyullah.

Karena besarnya jasa-jasa beliau, hingga kini masih dihormati masyarakat dari luar kota maupun dalam kota lewat ziarah pada hari-hari tertentu seperti malam Jumat Pon. Dan yang paling ramai pada bulan Suro / Muharam, tepatnya 27 suro karena diadakan haul.


Berkat jasa-jasa Sunan Pojok, puteranya yang bernama Jaya Dipa diangkat menjadi Bupati Blora yang pertama (dinasti Surobahu Abdul Rohim). Setelah wafat, digantikan putranya Jaya Wirya sebagai Bupati ke-2, dan kemudian Jaya Kusuma sebagai Bupati ke-3, yang keduanya setelah wafat dimakamkan di satu lokasi dengan makam Pangeran Pojok di Kauman.


Sumber :