Kamis, 31 Oktober 2019

Don't Quit ... Keep Playing

Anak Kecil dan Sang Maestro 

Alkisah di satu kota di Polandia, seorang ibu yang memiliki putra berusia 5 tahun, karena didorong keinginan memberi bekal ilmu seni, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. 

Selang beberapa bulan kemudian di kota tersebut datang seorang maestro pianis yang sangat terkenal, Ignace Paderewski, untuk sebuah konser tunggal. Karena ketenarannya, dalam waktu yang sangat singkat tiket konser telah terjual habis. Sang Ibu membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya, deretan paling depan.

 

Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser mulai, kursi telah terisi penuh, sang ibu kemudian duduk dengan si anak tepat berada di sampingnya. Akan tetapi seperti layaknya seorang anak kecil, si anak ini pun tidak bisa betah duduk diam terlalu lama. Tanpa pengetahuan ibunya, ia menyelinap pergi.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang Ibu terkejut menyadari bahwa putranya tidak lagi ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya sudah berada di atas panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan maestro pianis tersebut. 

Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa rasa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana yang dipelajari olehnya, Twinkle Twinkle Little Star. 

Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba2 lebih dahulu, maka ia langsung menyorotkan lampunya ke arah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan seorang Ignace Paderewski, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis yang juga terkejut, bergegas naik ke atas panggung. 

Melihat anak tersebut, Ignace Paderewski tidak menjadi marah, justru ia tersenyum dan berkata "Jangan berhenti ... Teruslah bermain", dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya. Sang pianis lalu duduk di samping si kecil yang berani ini, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, jari-jari tangan kirinya memainkan bass, sedangkan tangan kanannya menambah porsi obbligato dari tuts-tuts yang dimainkan jari2 mungil si kecil yang terus semangat bermain piano dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut. 

Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, bucket bunga dilemparkan ketengah panggung.

Bisa jadi ... kitalah anak kecil tadi ... yang meskipun sudah mengupayakan yang terbaik yang kita bisa ... tetap saja belum mampu menghasilkan simphony yang indah seperti yang diharapkan oleh ... misal orang tua kita, atau boss kita atau bahkan masyarakat di sekitar kita.

Namun ... selalu ada Sang Maestro dalam kehidupan kita yang mampu membuat hal2 yang tidak mungkin kita lakukan justru menjadi hal2 yang mudah terjadi dan indah ... Dialah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.


Kita hanya harus terus berusaha dan berdoa untuk beroleh ridho dan pertolongan-Nya ... don't quit, keep playing ... jangan pernah menyerah meskipun lelah, bangkitlah kembali kalaupun jatuh, terus kejar apa yang kita cita2kan dengan hal terbaik yang bisa kita lakukan ... apapun nanti hasilnya serahkan sepenuhnya kepada Nya

Jumat, 25 Oktober 2019

Doamu Untuk Saudaramu



Dari Shafwan Ibnu Abdullah RA

"Saya pernah pergi ke Syam dan mengunjungi Abu Darda' di rumahnya. Namun saya tidak bertemu dengannya, lalu saya pergi menjumpai Ummu Darda.'

Setelah itu, Ummu Darda bertanya kepada saya,
"Hai Shafwan, apakah kamu akan pergi haji pada tahun ini?"

 Saya pun menjawab, "Ya."

Ummu Darda' berkata, "Mohonkanlah kepada Allah kebaikan untuk kami, karena Rasulullah SAW telah bersabda, 'Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan tanpa diketahui olehnya akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang telah diutus, dan setiap kali ia berdoa untuk kebaikan, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan "amin" dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.'"

Shafwan berkata, "Setelah itu saya pergi ke pasar dan di sana saya bertemu dengan Abu Darda' Ternyata ia pun mengatakan seperti itu kepada saya yang diriwayatkannya dari Rasulullah Muhammad SAW"

(HR Muslim Shahih Nomor 1891).


Senin, 18 Februari 2019

PEMIMPIN YANG DIPECAT KARENA TIDAK PERNAH BERBUAT KESALAHAN.

Hikmah Pemimpin Sejati Dari Teladan Khalid ibn Walid RA

Pada zaman pemerintahan Khalifah Sayidina Umar bin Khatab RA, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. 
Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima kafir Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim.

Beliau adalah Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." 
Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus. 





Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejelian taktiknya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit. 

Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, taktik & strategi,  mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas. 

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Sayidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, 
"Dengan ini saya nyatakan Panglima Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!"

Menerima khabar tersebut tentu saja sang Panglima sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu. 

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya. 

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin ! Langsung saja ! 
Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat ?"

"Walaikumsalam warahmatullah ! 
Betul Khalid!" Jawab Khalifah.

"Kalau masalah dipecat itu hak anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"

"Kamu tidak punya kesalahan."

"Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? 
Apa saya tak mampu menjadi panglima?"

"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."

"Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya. 

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, engkau panglima terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong''

''Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!"

Mendengar jawaban itu, Khalid bin Walid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"

Bayangkan …. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. 
Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? 
Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, 'kegagalan' atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. 
Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat..... bahkan hingga yang paling ekstrim.... Tuhan pun digugat.

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tidak lagi sebagai panglima perang. 
Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin. 

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Panglima, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah."

Para Pemimpin Akan Silih Berganti



Dari Abu Sa'id Al Khudri RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, 

"Kalian akan dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang menjadikan hati tenang dan kulit serasa lembut. Kemudian kalian akan dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang menjadikan hati bergetar dan kulit merinding." 

Lalu seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kami boleh membunuhnya?" 

Beliau bersabda, "Jangan, selama ia masih mengerjakan shalat" 

(H.R. Ahmad, Shahih Nomor 10792). 

Senin, 31 Desember 2018

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun



Doa akhir tahun

‎بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
‎اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْه وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Latinnya :

"Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba‘da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da‘autanî ilat taubati min ba‘di jarâ’atî ‘alâ ma‘shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa‘attanî ‘alaihits tsawâba, fa’as’aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha‘ rajâ’î minka yâ karîm."

Artinya :

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu. Sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Karenanya aku memohon ampun kepada-Mu. Ampunilah aku.
Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah pupuskan harapanku. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.



Doa awal tahun

‎بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اَنْتَ اْلاَ بَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرَمِ جُوْدِكَ الْمُعَوَّلُ وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ اَقْبَلَ اَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ
اَوْلِيَائِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلاَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى اِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Latinnya :

"Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam. Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa ‘alaa fadhlikal-’azhimi wujuudikal-mu’awwali, wa haadza ‘aamun jadidun qad aqbala ilaina nas’alukal ‘ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa’ihi wa junuudihi wal’auna ‘alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu’i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallam."

Artinya :

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam (belas kasihan dan kesejahteraan) kepada junjungan dan penghulu kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat Beliau. Ya Allah, Engkau Dzat Yang Kekal, yang tanpa Permulaan, Yang Awal (Pertama) dan atas kemurahan MU yang agung dan kedermawanan MU yang selalu berlebih, ini adalah tahun baru telah tiba. Kami mohon kepada MU pada tahun ini agar terhindar (terjaga) dari godaan syetan dan semua temannya serta bala tentara (pasukannya), dan (kami mohon) pertolongan dari godaan nafsu yang selalu memerintahkan (mendorong) berbuat kejahatan, Serta (kami mohon) agar kami disibukkan dengan segala yang mendekatkan diriku kepada MU dengan sedekat-dekatnya. Wahai Dzat Yang Maha Luhur lagi Mulia, wahai Dzat Yang Maha Belas Kasih. Dan Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam (belas kasihan dan kesejahteraan) kepada junjungan dan penghulu kita nabi Muhammad yang ummi beserta keluarga dan sahabat Beliau


Jumat, 21 Desember 2018

Wudhu Rasulullah SAW



Dari Abu Mathar R.A., 
bahwa tatkala kami sedang duduk bersama Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib R.A. di Masjid di Rahabah, tiba-tiba seorang laki-laki datang dan berkata, 

"Tunjukkan kepadaku bagaimana wudhu Rasulullah SAW."  

Pada saat itu matahari telah tergelincir ke arah barat. Ali R.A. memanggil Qanbar dan berkata, 
"Bawakan bejana berisi air".  

Lalu dia membasuh kedua telapak tangannya, wajahnya tiga kali, berkumur-kumur tiga kali, memasukkan sebagian jarinya pada mulutnya, beristinsyaq tiga kali, membasuh kedua lengannya tiga kali dan mengusap kepalanya sekali, sambil berkata, 

"Bagian dalam (telinga) termasuk bagian dari wajah dan bagian luarnya termasuk bagian kepala." 

Kemudian membasuh kedua kakinya sampai mata kakinya tiga kali, sedangkan janggutnya terurai pada dadanya. 

Kemudian dia meminum satu tegukan setelah rampung dari wudhunya. 

Setelah itu bertanya, "Di mana orang yang bertanya tentang wudhu Rasulullah SAW? Beginilah wudhu Nabiyullah SAW" 

(H.R. Ahmad, Shahih Nomor 1285).

Selasa, 18 Desember 2018

Amalan Shalat Malam Rasulullah SAW



Dari Sa'd bin Hisyam R.A. berkata, 

"Aku tiba di Madinah, lalu aku menemui Aisyah R.A. dan berkata, 

'Tolong sampaikanlah kepadaku tentang shalat Rasulullah SAW' 

Aisyah R.A. menjawab, 

"Sesungguhnya Rasulullah SAW biasa mengerjakan shalat Isya' bersama orang-orang (berjama'ah), kemudian Beliau pergi ke tempat tidurnya dan tidur. Apabila sudah tengah malam, beliau bangun, lalu buang hajat, bersuci dan berwudlu'. Setelah itu Beliau masuk ke masjid dan shalat delapan raka'at. Terlintas dalam pikiranku, bahwa Beliau menyamakan (lamanya) dalam bacaan, ruku' dan sujudnya. Kemudian Beliau witir satu raka'at. 
Selepas witir, Beliau mengerjakan dua raka'at sambil duduk, setelah itu beliau berbaring di atas rusuknya. 
Ketika Bilal R.A. datang untuk mengumandangkan adzan shalat, Beliau tercengang, (aku agak ragu, apakah Beliau memang tercengang ataukah tidak), sampai Bilal mengumandangkan adzan untuk shalat. 
Demikianlah shalat Rasulullah SAW hingga memasuki usia tua dan gemuk." 

Aisyah R.A. menyebutkan kegemukan Beliau itu merupakan kehendak dari Allah…" 

(H.R. Abu Dawud, Shahih Nomor 1147).

Senin, 19 November 2018

Balada Salesman Nginep Losmen

Sak wijining dino, Cak Gimo sales minyak pelumas, minyak gosok lan minyak goreng mados kamar losmen kangge bermalam.

“Kamaré taksih wonten ?”

“Wah sampun telas, je. Kebak”

“Wadooóh, kulo sedino niki lelungan jan kesel tenan, mbok di-gólèk2ké. Nganggé kloso nggih mboten nopo2”

“Sakjané wonten kamar. Mpun disewo serdadu, ten kamaré wonten peturón kaléh”

“Nopo purun dijak paron?”

“Mesthine purun, wonge niku rodo medhit. Angger séwo kamar Losmen paron mesthi gelem”

“Nggéh pun. Kulo purun”

“Néng akèh séng sambat, jé”

“Sambat pripun ?”

“Wong niku ngoroké kados bledhèg nyamber2”

“Mboten nopo2”

“Biasané konco kamare mboten tahan. Mboten saget tilem. Kebrebegen”

“Mboten nopo2”


Ésuké petugas Losmen nakoni Cak Gimo.

“Pripun ? Saged tilem?“

“Saged. Angler, sakniki kulo seger”

“Wah, pripun carané ?”

“Pas wayah tilem, wong niku pun ngorok mbrebegi kuping”

“Lha, rak inggih to ? Terus pripun ?”

“Kulo ambungi”

“Ha ..... ? Nopo sampéan hombrèng ?”

“Sanès”

“Njuk pripun ?”

“Wonge niku sewengi melèk, mboten wani turu”

"Woooooogh ... Tibake pinter nggih njenengan niku? Wekekekekekek"

Yen Sedekah Kudu Ikhlas Yo

Sakbubare traweh, cak Gimo budhal nang warunge Yu Mun. Karepe ngono ngopi karo golek konco jagongan, mergane nang omah kalah karo anak bojone leh rebutan tipi.
Tekan ngarep warung, cak Gimo meruhi cak Ginong nembe mancing nang kalenan sebelah warunge Yu Mun. Kamongko kalenane wis meh garing ora ono banyune mili. Ono banyu wae soko buwangane korah-korahe Yu Mun.
"Biyuuuh melase dulur sitok iki" ngono batine cak Gimo. Pancene cak Ginong nang kampunge kono yo kalebu wong susah kesrakat, dhasare wong bodho, tandang gawe ora genah pintere, dadi kangelane olehe golek rejeki.
"Cak Ginong, mreneo!" Cak Gimo nyeluk cak Ginong mlebu warunge Yu Mun. Sing diceluk cekat-ceket moro lungguh nyandhingi cak Gimo.


Ditawari ngopi kare maem, cak Ginong yo ora nolak blas. Soto sak mangkok bablas, malah wis pesen imbuh pisan. Kopine wis disruput separo, karo nunggu tandukane soto.

"Pean mancing nang kono iki awit kapan cak?" Takone cak Gimo.

"Awit ngarepke maghrib mau." Jawabe cak Ginong entheng, karo mulai nyendhok sotone maneh.

"Opo yo onok iwake nang kono?" Takone cak Gimo pengin eruh.

"Hehehehe, pean lak yo weruh dhewe to cak, ora ono banyune ngono mosok yo ono iwake." Jawabe cak Ginong nggarai bingunge cak Gimo.

"Lha geneyo pean kok malah njogrok mancing nang kono yen genah ga ono iwake?"

"Iwake gak onok cak, tapi iso oleh rejekine. Iki mau wis entuk loro, pas maghrib wau, karo saiki."

"Lho karepe piye?" Cak Gimo isih gumun.

"Nggih kados pean niki wau, asile kulo mancing cak. Lumayan saged sarapan wareg, dibayari pisan. Suwun yo cak!"

"Yung ngalaaaah! Tibakne! Yo wiiiiiis … ikhlas kok!"