Dituliskan di Sidoarjo, September 2026 .. oleh oleh dari Pengajian di Masjid Ihya'ul Qulub - Perumahan Mandiri Residence, Ds. Jerukgamping - Kec. Krian - KAb. SIdoarjo
Memaafkan bukan hanya sekadar gugurnya hak kita atas kesalahan orang lain, tetapi juga bentuk terapi jiwa yang diajarkan dalam Al-Qur'an.
Banyak ayat menegaskan bahwa memaafkan adalah bentuk ketakwaan tertinggi yang berdampak langsung pada kedamaian batin.
1. Landasan Al-Qur'an tentang Keutamaan Memaafkan
A. Sifat Orang Bertakwa dan Dicintai Allah
> QS. Ali 'Imran [3]: 134
> الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
> "(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
> * Tafsir ringkas: Ayat ini menyandingkan kemampuan menahan amarah (al-kazhiminal-ghaizh) dan memaafkan (al-'afina 'anin-nas) sebagai ciri utama orang yang bertakwa dan meraih martabat muhsin (orang yang berbuat baik).
B. Memaafkan adalah Sikap yang Paling Mulia ('Azmil Umur)
> QS. Asy-Syura [42]: 40 & 43
> وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ...
> "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (memperbaiki hubungan), maka pahalanya dijamin oleh Allah..." (Ayat 40)
> وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
> "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia/diutamakan." (Ayat 43)
C. Perintah Memaafkan Meski Punya Kuasa Membalas
> QS. An-Nur [24]: 22
> ...وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
> "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
> * Konteks Ayat: Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq RA yang bersumpah tidak akan memberi nafkah lagi kepada kerabatnya, Mistah bin Utsatsah, karena ikut menyebarkan fitnah terhadap Aisyah RA. Allah menegur Abu Bakar agar tetap memaafkan dan berlapang dada.
2. Dampak Memaafkan terhadap Ketenangan Hati dan Jiwa
Al-Qur'an menggunakan istilah الْعَفْوُ (Al-'Afwu) yang secara bahasa berarti menghapus/mengikis habis dan الصَّفْحُ (As-Safhu) yang berarti membuka lembaran baru tanpa rasa ganjalan.
Proses ini membawa dampak besar bagi psikologis dan kedamaian jiwa:
[ Dendam & Amarah ] ---> [ Memaafkan (Al-'Afwu) ] ---> [ Hati Lapang (Sadr) ] ---> [ Ketenangan (Sakinah) ]
* Membebaskan Jiwa dari Beban Emosional (Tazkiyatun Nafs): Menyimpan amarah ibarat menggenggam bara api—yang terbakar pertama kali adalah diri sendiri. Dengan memaafkan, seseorang merelakan beban kebencian sehingga hatinya menjadi lapang (Insyirah as-Sadr).
* Mendapatkan Rasa Aman dan Kedamaian (Sakinah): Balasan dari Allah bagi orang yang merelakan haknya demi kedamaian adalah perasaan tenang yang tidak bisa dibeli dengan materi.
* Meningkatkan Derajat Diri:
Dalam HR. Muslim (no. 2588), Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang suka memaafkan melainkan kemuliaan (wibawa dan ketenangan jiwa)."