SIDOARJO - September 2026
Oleh - oleh kajian Kitab Riyadhus Shalihin (Hadits ke 39 dan 40) di Masjid Sabilillah -- Perumahan Mandiri Residence, Krian -- Sidoarjo
Kajian Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi pada Bab Sabar, tepatnya hadits ke-39 (no. 39 dalam urutan bab sabar).
Teks Hadits
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ"Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya."(HR. Bukhari)
Syarah dan Penjelasan Hadits
1. Makna Lafaz (Lughawi)
- yuridillāhu bihi khairan: Allah menghendaki kebaikan pada agama, iman, dan kedudukan hamba-Nya di akhirat.
- yushib minhu: Dapat dibaca yushab (ditimpa) atau yushib (Allah menimpakan padanya). Musibah di sini mencakup cobaan fisik (sakit), materi (kehilangan harta), mental (kesedihan), maupun sosial.
2. Inti Pelajaran & Fawaid Hadits
- Tanda Cinta dan Kebaikan dari Allah: Musibah tidak selalu berbentuk hukuman. Bagi seorang mukmin, cobaan justru tanda bahwa Allah menginginkan hamba tersebut bersih dari dosa dan naik derajatnya.
- Pembersih Dosa (Kaffarah): Setiap rasa sakit, kekhawatiran, atau musibah yang dihadapi dengan sabar akan menggugurkan dosa-dosa kecil.
- Penguji Kesabaran: Kebaikan tersebut baru akan terwujud sempurna jika ditanggapi dengan sabar dan ihtisab (mengharap pahala dari Allah), bukan dengan meratap (jas'a) atau menyalahkan takdir.
Pelajaran Utama
- Ujian adalah Kepastian: Seseorang yang tidak pernah diuji bukan berarti selalu dicintai Allah; bisa jadi itu bentuk istidraj (dibiarkan dalam kelalaian).
- Positif terhadap Takdir: Hadits ini mengajarkan agar seorang muslim selalu berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah saat mendapati kesulitan hidup.
- Syarat Kebaikan: Ujian menjadi kebaikan hanya jika disikapi dengan sabar, ridha, dan tidak bermaksiat dalam meresponsnya.Kajian Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi pada Bab Sabar, tepatnya hadits ke-40 (no. 40 dalam urutan bab sabar).
Teks Hadits
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لاَبُدَّ فَاعِلاً فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي"Janganlah salah seorang di antara kalian berharap mati karena musibah yang menimpanya. Jika ia memang harus berbuat demikian, hendaklah ia berdoa: 'Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu memang lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu memang lebih baik bagiku'."(HR. Bukhari dan Muslim)Syarah dan Penjelasan Hadits
1. Makna Lafaz (Lughawi)- li dhurrin nazala bihi: Karena bahaya, musibah, atau kesusahan duniawi (seperti sakit kronis, kebangkrutan, atau kemalangan) yang menimpa dirinya.
- fa in kāna lā budda fā'ilan: Jika dorongan keputusasaan atau rasa sakit begitu hebat sehingga ia merasa tidak kuat lagi menanggungnya.
2. Inti Pelajaran & Fawaid Hadits- Larangan Menginginkan Kematian: Larangan ini bersifat tegas untuk musibah duniawi. Hal ini menandakan ketidaksabaran, ketidakridhaan terhadap takdir Allah, serta keputusasaan dari rahmat-Nya.
- Sikap Menyerahkan Keadaan kepada Allah: Islam tidak membiarkan hamba-Nya terpuruk. Jika ujian terasa sangat berat, solusinya bukan meminta mati, melainkan membaca doa pasrah yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di atas.
- Kehidupan Mukmin Adalah Kebaikan: Selama masih hidup, seorang mukmin punya kesempatan untuk menambah amal saleh, bertobat dari dosa, dan meningkatkan derajat di sisi Allah.
Pelajaran Utama
- Ujian Kesabaran: Kunci utama saat menghadapi kemalangan adalah bersabar dan bertahan, bukan mencari jalan pintas atau berputus asa.
- Adab Berdoa saat Kritis: Boleh berdoa menyerahkan keputusan umur kepada Allah dengan kalimat pasrah (تفويض), karena hanya Allah yang tahu apakah sisa umur kita membawa pahala atau keburukan.
- Pengecualian: Para ulama menjelaskan bahwa larangan meminta mati ini berlaku untuk musibah duniawi. Adapun jika seseorang khawatir akan fitnah agama yang dapat merusak imannya, sebagian ulama membolehkan berdoa memohon keselamatan agama hingga diwafatkan.
