Bersahabat dengan MUSIBAH .. ( Kajian Al Qur'an - Al Baqarah ayat 155 ~ 157 )

Dituliskan di Sidoarjo, September 2026 .. oleh oleh dari Pengajian di Masjid Ihya'ul Qulub - Perumahan Mandiri Residence, Ds. Jerukgamping - Kec. Krian - KAb. SIdoarjo 

Secara umum, mayoritas ulama tafsir menyatakan bahwa tidak ada asbabun nuzul (sebab khusus turunnya ayat) yang tunggal atau spesifik untuk Surah Al-Baqarah ayat 155–157. 

Ayat-ayat ini diturunkan sebagai kaidah umum dan ketetapan hukum/sunnatullah bagi kehidupan umat Islam, khususnya pada periode Madinah.


Meski begitu, para ulama menjelaskan latar belakang historis (kolektif) serta riwayat pendukung yang melatarbelakangi turun dan digunakannya ayat ini:
 

1. Latar Belakang Kondisi Kaum Muslimin di Madinah
 
Setelah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat berhijrah dari Makkah ke Madinah, mereka menghadapi berbagai bentuk ujian berat secara bertubi-tubi:
 
 * Rasa takut (al-khauf): Ancaman keamanan dan intimidasi dari kaum musyrikin Makkah serta gangguan dari pihak musuh sekitar.
 
 * Kelaparan & kekurangan harta (al-ju' wa naqsin minal-amwal): Kaum Muhajirin meninggalkan harta benda mereka di Makkah, sementara kondisi ekonomi Madinah saat itu sedang sulit akibat pacaroba atau kegagalan panen (ats-tsamarat).
 
 * Kehilangan jiwa (al-anfus): Gugurnya para sahabat dalam pertempuran (seperti Perang Badar dan Uhud) serta kematian kerabat karena sakit/musibah.

Atas kondisi berat tersebut, Allah menurunkan QS. Al-Baqarah: 155–157 untuk menyiapkan mental, menguatkan ketabahan, dan memberi petunjuk kepada kaum muslimin dalam menyikapi setiap ujian hidup.


2. Riwayat Pendukung (Syawahid) Terkait Penggunaan Ayat
Meskipun bukan sebab langsung yang memicu turunnya ayat, terdapat beberapa kisah dan riwayat shahih yang sangat erat hubungannya dengan penerapan ayat ini:

A. Kisah Wafatnya Abu Salamah (Riwayat Ummu Salamah)
Dalam Shahih Muslim, Ummu Salamah RA menceritakan bahwa ketika suaminya (Abu Salamah) meninggal dunia, beliau mengamalkan ajaran Rasulullah SAW berdasarkan ayat ini:
> "Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah lalu ia mengucapkan: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, allahumma'-jurni fi mushibati wa akhlif li khairan minha' (Ya Allah, berilah pahala dalam musibahku ini dan gantikanlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya), melainkan Allah akan memberinya pahala dan menggantikannya dengan yang lebih baik."
> Ummu Salamah sempat ragu siapa yang lebih baik dari Abu Salamah, tetapi setelah masa idahnya usai, ia dilamar dan menikah dengan Rasulullah SAW.


B. Peristiwa Lampu Minyak Rasulullah yang Padam
Dalam sebuah riwayat hadits مرسل (mursal) dari Ikrimah, suatu ketika lampu minyak milik Rasulullah SAW mendadak padam. Beliau kemudian mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un).
Para sahabat yang ada di dekat beliau bertanya: "Apakah padamnya lampu ini juga termasuk musibah, wahai Rasulullah?"
Rasulullah SAW menjawab:
> "Ya, segala sesuatu yang menyusahkan atau mengganggu seorang mukmin adalah musibah."

Dalam kitab Tafsir Jalalain karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuti, kajian Surah Al-Baqarah ayat 155 memberikan penjelasan mendalam mengenai hakikat ujian hidup dan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar.

Teks dan Terjemahan Ayat

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

Penjelasan Tafsir Jalalain

Secara lughawiyyah (kebahasaan) dan ma'nawiyyah (makna), para pengarang Tafsir Jalalain menguraikan setiap potongan kata sebagai berikut:

  • وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ (Walanabluwannakum): "Sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian." Maknanya adalah Allah akan memperlakukan hamba-Nya dengan ujian agar nampak jelas siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang ragu.

  • بِشَيْءٍ (Bisyai-in): "Dengan sedikit." Kata bisyai-in di sini menunjukkan bahwa ujian yang diberikan Allah sejatinya hanya sebagian kecil, bukan ujian yang menghancurkan secara keseluruhan.

  • مِنَ الْخَوْفِ (Minal-khauf): Yaitu rasa takut terhadap musuh atau marabahaya.

  • وَالْجُوعِ (Wal-ju'i): Yaitu kelaparan akibat paceklik atau kemarau panjang.

  • وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ (Wa naqsim minal-amwal): Melalui kerusakan, kerugian, atau hilangnya harta benda.

  • وَالْأَنْفُسِ (Wal-anfus): Melalui kematian, pembunuhan (dalam peperangan), atau wabah penyakit yang menimpa kerabat dan orang tercinta.

  • وَالثَّمَرَاتِ (Wats-thamarat): Terjadinya gagal panen pada buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan.

  • وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (Wa basysyiris-sabirin): "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar" — yakni mereka yang mampu bertahan dan menanggung ujian-ujian tersebut dengan ridha terhadap takdir Allah.

Poin Utama Kajian

  1. Ujian adalah Kepastian: Huruf lam dan nun taukid pada kata walanabluwannakum menegaskan bahwa ujian dalam kehidupan dunia adalah sesuatu yang pasti terjadi bagi setiap mukmin.

  2. Keringanan Rahmah Allah: Penggunaan kata bisyai-in (sedikit) menandakan rahmat Allah. Ujian berat yang dirasakan manusia sebenarnya hanyalah porsi kecil dibanding nikmat-Nya yang melimpah.

  3. Pemberian Balasan Pahala: Di penghujung ayat, Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk menyampaikan berita gembira berupa surga dan pahala tanpa batas bagi orang yang menyikapi musibah dengan sabar.


Dalam Tafsir Jalalain, kelanjutan dari ayat 155 ini mempertegas sifat dan sikap orang-orang sabar (as-shabirin) yang berhak menerima kabar gembira dari Allah SWT, khususnya ketika mereka tertimpa musibah.

Teks dan Terjemahan Ayat

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).

Penjelasan Tafsir Jalalain

Para pengarang Tafsir Jalalain merincikan potongan kata dalam ayat ini sebagai berikut:

  • الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ (Alladzina idza ashabat-hum mushibah): Merupakan sifat dari as-shabirin pada ayat sebelumnya. Musibah di sini mencakup segala hal yang tidak disukai atau menyusahkan seorang mukmin.

  • قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ (Qalu inna lillahi): "Kami adalah milik Allah." Maksudnya adalah pengakuan jujur bahwa diri kita, harta, dan seluruh apa yang ada pada kita merupakan milik serta hamba Allah semata. Allah berhak berbuat apa saja terhadap milik-Nya sesuai kehendak-Nya.

  • وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (Wa inna ilaihi raji'un): "Dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali." Maksudnya adalah kesadaran bahwa kita akan kembali kepada Allah di akhirat kelak, dan Allah akan memberikan balasan pahala atas kesabaran kita dalam menghadapi musibah tersebut.

Poin Utama dan Keutamaan Kalimat Istirja'

  1. Pengakuan Hamba terhadap Sang Pencipta: Ucapannya bukan sekadar lisaniyah, melainkan penegasan akidah bahwa manusia tidak memiliki hak kepemilikan mutlak atas apa pun di dunia.

  2. Penawar Duka (Pelipur Lara): Dengan menyadari bahwa semua akan kembali kepada Allah, beban psikologis dan rasa kehilangan saat ditimpa cobaan menjadi jauh lebih ringan.

  3. Pahala Membaca Istirja': Dalam riwayat hadis yang berkaitan dengan penafsiran ayat ini, barang siapa yang mengucapkan kalimat istirja' saat tertimpa musibah dengan penuh keikhlasan, Allah akan mengganti musibah tersebut dengan kebaikan dan memberikan pahala atas kesabarannya.

Dalam Tafsir Jalalain, Surah Al-Baqarah ayat 157 merupakan puncak balasan dan penutup dari rangkaian ayat 155–156 tentang ujian kehidupan dan sikap sabar. Ayat ini menjelaskan secara rinci keutamaan agung yang Allah SWT janjikan khusus bagi mereka yang mengucapkan kalimat istirja’ dan bersabar saat tertimpa musibah.

Teks dan Terjemahan Ayat

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

"Mereka itulah yang mendapat keberkahan/ampunan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Penjelasan Tafsir Jalalain

Para penyusun Tafsir Jalalain mendeskripsikan setiap makna frasa pada ayat ini secara lugas:

  • أُولَٰئِكَ (Ula-ika): "Mereka itulah" — kata tunjuk (isim isyarah) yang mengaitkan secara langsung pada orang-orang sabar yang digambarkan pada ayat 155 dan 156.

  • عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ ('Alaihim shalawatum mir-rabbihim): Makna shalawat dari Allah SWT di sini diartikan sebagai ampunan (maghfirah) dan pujian/keberkahan yang dilimpahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bersabar.

  • وَرَحْمَةٌ (Wa rahmatun): Maksudnya adalah kasih sayang Allah, perlindungan-Nya dari siksa, serta nikmat karunia-Nya yang mengalir saat di dunia maupun akhirat.

  • وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (Wa ula-ika humul-muhtadun): "Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." Petunjuk (hidayah) yang dimaksud adalah bimbingan untuk menemukan jalan kebenaran (ash-shawab), yaitu mampu mengucapkan kalimat istirja' (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) dan menyadarkan diri kembali pada takdir Allah saat diuji.

Poin Utama dan Keutamaan Ayat 157

  1. Bertumpuknya Tiga Keutamaan: Allah tidak hanya memberikan satu hadiah, melainkan tiga bentuk kemuliaan sekaligus bagi orang yang sabar: Shalawat (ampunan/keberkahan), Rahmat (kasih sayang), dan Hidayah (bimbingan petunjuk).

  2. Kaitan dengan Riwayat Umar bin Khattab RA: Mengenai ayat ini, sahabat Umar bin Khattab RA pernah berkata: "Sebaik-baik dua beban (kemuliaan) dan sebaik-baik beban tambahan." Yang dimaksud dua beban adalah shalawat dan rahmat, sedangkan beban tambahannya adalah hidayah (al-muhtadun).

  3. Penyelaras Hati dan Amal: Keberhasilan seseorang untuk bersabar dan tidak mencela takdir saat diuji merupakan bukti nyata bahwa hatinya sedang dibimbing oleh petunjuk (hidayah) dari Allah SWT.



Kesimpulan
Surah Al-Baqarah ayat 155–157 diturunkan sebagai prinsip dasar universal: Allah memberitahukan bahwa ujian hidup berupa rasa takut, kemiskinan, kelaparan, dan kematian adalah keniscayaan. Ayat ini hadir memberi kabar gembira bagi mereka yang merespons musibah dengan kesabaran dan kesadaran bahwa segala hal akan kembali kepada-Nya.